Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang pernuh dengan berkah, maka sudah sepatutnya kita mengisinya dengan memperbanyak ibadah agar kita terhindar dari berbagai macam maksiat hati.
Menurut Syekh Abdullah
ibn Hasan dalam kitab Sullam at-Taufiq menguraikan kepada kita
setidaknya ada 4 kemaksiatan hati.
1. Maksiat hati yang pertama adalah riya saat
beramal. Sebagaimana yang kita katahui bersama, riya sendiri adalah beramal
karena ingin terlihat baik di mata orang lain.
2. Maksiat hati yang kedua adalah sifat ujub atau
melihat kemampuan beramal atau kemampuan taat kepada Allah datang dari diri
sendiri. sifat ujub biasanya ditandai dengan:
1) sifat takabur
2) sombong angkuh
3) menolak kebenaran yang biasanya ditandai dengan:
Ø melihat diri kita lebih terhormat
Ø melihat diri kita lebih mulia
Ø melihat diri kita lebih agung dari orang lain
sangking bahayanya sifat ini Rasulullah saw mengingatkan kita
dalam sebuah haditsnya:
لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ
ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya, “Tidak akan
masuk surga bagi seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari
sifat takabur,” (HR. Muslim).
3. Maksiat hati yang ketiga adalah hasud dan
dengki. Hasud artinya sifat tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, bahkan jika bisa nikmat itu hilang dari orang tersebut dan beralih kepada
diri kita. Sementara sifat dengki adalah menyembunyikan kebencian dan
permusuhan terhadap orang lain. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw mengingatkan
perihal bahayanya sifat hasud.
إِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ
الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Artinya: "Sesungguhnya
sifat hasud dapat memakan kebaikan seperti halnya api memakan kayu bakar,”
(HR. Abu Dawud).
4. Maksiat hati yang keempat, adalah merasa ragu
kepada Allah dan putus asa terhadap rahmat dan ampunanya-Nya. Padahal Allah
sudah menjelaskan dalam firman-Nya:
لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ
Artinya: “Janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Dzat yang mengampuni
semua dosa,” (QS. Az Zumar: 53).