Nabi Muhammad saw bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ
أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (HR Ahmad, Thabrani, dan
Daruquthni).
Melalui hadits tersebut, kita
diajak untuk menjadi pribadi yang tak hanya baik secara batin, tapi juga luas kebermanfaatannya
bagi sesama.
Menjadi orang baik itu
sebenarnya tidaklah sulit, apalagi ketika hati kita sedang dalam keadaan senang,
usaha sedang lancar, keluarga hidup rukun, dan berbagai hajat serta keinginan
kita terpenuhi. Dalam keadaan seperti itu, tentu sangat mudah bagi kita untuk
selalu tersenyum kepada sesama, membantu orang lain, dan berkata dengan lembut
kepada siapa pun.
Namun, menjadi orang baik
ketika kita sedang diuji bukanlah perkara mudah. Saat usaha mengalami
kebangkrutan, keluarga sedang dilanda masalah, tubuh sedang terasa lelah, atau
ketika lingkungan di sekitar kita sedang tidak mendukung, pada saat itulah
kebaikan kita benar-benar diuji.
Kesimpulannya, kualitas
kebaikan kita tidak diukur dari seberapa lebar senyum kita saat bahagia,
melainkan dari seberapa teguh prinsip kita saat dilanda derita. Menjadi baik
dalam segala cuaca itu memang berat; itulah mengapa kita butuh istiqomah
sebagai pengikat hati, agar kebaikan bukan sekadar 'musiman', tapi menjadi
identitas diri yang abadi.
Dari kesimpulan tersebut kita mendapat
pelajaran berharga yaitu: istiqomah dalam kebaikan, baik saat lapang maupun
sempit adalah ujian pembuktian siapa kita yang sebenarnya. Di situlah letak
bedanya antara emas murni dan sepuhan. Hanya hati yang terpaut pada Sang
Pencipta yang mampu tetap tersenyum memberi manfaat, meski air mata sedang
jatuh membasahi pipi. Karena bagi seorang mukmin sejati, kebaikan bukanlah
tentang mengikuti suasana hati, melainkan tentang pengabdian tanpa tepi kepada
Ilahi Robbi.
Mengingat betapa beratnya
perjuangan untuk istiqomah, Allah SWT menjanjikan balasan yang luar biasa bagi
hamba-Nya yang teguh pendirian. Bukan sekadar ketenangan di dunia, melainkan
balasan yang teramat istimewa, yaitu surga yang penuh dengan kemuliaan dan
kenikmatan abadi di dalamnya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam
firman-Nya
إِنَّ الَّذِينَ
قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya, “Sesungguhnya
orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan
berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
(QS Fushshilat [41]: 30).
Dari Ayat tersebut Allah
memberi kabar gembira yaitu jaminan
mutlak dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang istiqomah. Surga menanti mereka
yang mampu bertahan dalam melakukan kebaikan. Maka pada momentum Ramadhan ini,
marilah kita bulatkan tekad untuk terus istiqomah dalam kebaikan, karena hanya
dengan keteguhan hatilah, kita akan sampai pada puncak kemuliaan di sisi-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar