Dalam sebuah lirik lagu yang mungkin sering kita dengar :
"Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud
kepada-Nya?
Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut
nama-Nya?"
Dalam lirik lagu tersebut menyimpan sebuat pertanyaan yang
menggelitik buat kita semua. Apakah ibadah kita selama ini murni karena kecintaan
kita kepada Allah SWT, atau jangan-jangan karena ketakutan kita akan Nerakannya
Allah SWT. Jika demikian berarti ibadah yang selama ini kita lakukan hanyalah sekadar
transaksi dagang antara kita dengan Allah SWT.
Transaksi dagang yang dimaksud adalah, kita melakukan ibadah agar kita selamat
dari siksa api neraka dan mendapat fasilitas nikmat yaitu surganya Allah SWT. Jika
demikian berarti level ibadah kita baru sampai pada level ibadah transaksional.
Oleh sebab itu belajar dari lirik lagu tersebut, mari kita naikkan
level ibadah kita dari level ibadah transaksional menjadi level ibadah
mahabbah/cinta. Namun, di dalam Islam, mahabbah/cinta kepada Allah tidak bisa berdiri
sendiri; ia harus dikawal oleh rasa takut dan rasa harap terhadap rahmat Allah
SWT.
Mungkin pertanyaannya adalah “Mengapa Cinta Membutuhkan Pengawal”?
Analoginya, Ibarat sebuah kendaraan, Mahabbah
adalah mesinnya, Raja’ adalah bahan bakarnya, dan Khauf adalah remnya. Tanpa
rem, kendaraan akan celaka; tanpa bahan bakar, kendaraan akan mogok; dan tanpa
mesin, kendaraan tidak akan pernah bergerak.
Dengan Mahabbah/Cinta kita tidak akan merasa terpaksa dan berat hati saat akan melakukan
ibadah kepada Allah SWT.
Dengan Raja/Harapan
kita
tidak akan merasa putus asa terhadap Rahmat dan ampunan Allah SWT meskipun kita
sadar bahwa kita adalah makhluk yang penuh dengan dosa.
Dengan Khauf/Rasa
Takut kita
akan akan merasa takut saat kita akan melakukan perbuatan maksiat kepada Allah
SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar