Jumat, 24 Maret 2023

BAGAIMANA CERITANYA ORANG YANG BERAGAMA MAJUSI BISA MASUK SURGA

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia sebagaimana dikatakan didalam Hadist, Rasulallah SAW bersabda

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Bukhari )

 

Bahkan diantara kemulyaan bulan Ramadhan yang lain adalah, dapat menjadikan orang yang beragama majusi masuk surga seperti yang diceritakan dalam sebuah hikayat.

 

Pada suatu hari di bulan Ramadhan, ada seorang penganut agama Majusi yang melihat anaknya sedang enak-enakan makan di pasar. Melihat tingkah anaknya yang tidak bisa menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa, seketika ia mendatangi dan memukulnya, seraya bertanya

لِمَ لَمْ تَحْفَظْ حِرْمَةَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ رَمَضَانَ

"Mengapa engkau tidak menjaga kehormatan kaum muslimin di bulan ramadhan"

Sang ayah rupanya marah kepada anaknya karena seenaknya makan dan tidak menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa. Setelah kejadian itu Beberapa waktu kemudian, sang pria majusi tersebut akhirnya meninggal dunia.

Setelah pria majusi itu meninggal dunia, kemudian Ada seorang  yang ‘Alim bermimpi bertemu pria majusi itu. Didalam mimpi tersebut, terlihat orang majusi tersebut tengah  duduk dalam singgasana surga dengan kemulyaanya. Seketika Orang Alim tersebut merasa aneh. lalu orang ‘Alim itu pun bertanya

أَلَسْتَ مَجُوْسِيًا

"Bukankah engkau orang kafir majusi ?

Kemudia orang majusi tersebut menjawab

بَلىٰ وَلٰكِنْ سَمِعْتُ وَقْتَ الموْتِ نِدَاءً مِنْ فَوْقِى يَا مَلَائِكَةً لَا تَتْرُكُوْهُ مَجُوْسِيًا فَأَكْرِمُوْا بِالْإِسْلَامِ بِحُرْمَتِهِ لِرَمَضَانَ

“Benar, namun saat maut menjelang, aku mendengar suara di atasku, “wahai malaikatku, jangan biarkan dia mati dalam keadaan majusi. Muliakanlah dia dengan islam sebab dia memuliakan ramadhan”.

Kesimpulanya: Bahwa orang majusi saja dapat menemukan iman berkat memuliakan bulan ramadhan. Lalu bagaimana dengan orang yg berpuasa dalam bulan ramadhan dan memuliakanya.

Oleh sebab itu marilah kita manfaatkan momentum bulan Ramadhan ini dengan memperbanya amal ibadah kepada Allah SWT dengan harapan kita semua akan mendapatkan kemulyaan-kemulyaan dari bulan Ramadhan Aamiin.

Sumber : kitab Zubdatul Majalis

Kamis, 23 Maret 2023

TIGA GOLONGAN YANG MENDAPAT DISPENSASI PUASA RAMADHAN

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa puasa Ramadan hukumnya adalah wajib, yang mana mendapat pahala bila dikerjakan dan berdosa apabila ditinggalkan. Meskipun hukumnya wajib, tetapi Allah SWT memberi Dispensasi atau keringanan kepada kita. Dalam hal ini Allah SWT menghendaki kemudahan bagi hambanya dan tidak menghendaki kesukaran. Allah SWT berfirman

 

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (Surah Al Baqarah 185)

 

Betapa baiknya Allah SWT mencurahkan rasa sayangnya yang luar biasa besar kepada hambanya. Dan betapa sangat pedulinya Allah SWT terhadap keadaan dan kondisi hambanya yang sedang mengalami kesusahan dan kesulitan. Begitulah agama ini, sungguh mudah dan sederhana jangan kemudian dipersulit dengan hal-hal yang bersifat furu’iyah.

Dalam surah Al-Baqarah 184 Allah SWT memberkan dispensasi kepada 3 kriteria orang yang boleh tidak berpuasa.

 

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

 

Artinya: (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui ( Al Baqarah 184)

 

Berdasarkan ayat diatas 3 kriteria yang mendapat dispensasi adalah:

 

1.   Orang yang sakit

Orang sakit pada kriteria yang pertama ini adalah orang yang sakit namun masih ada harapan untuk sembuh, ibu hamil, dan ibu menyusui maka ia boleh membatalkan puasanyaatau tidak berpuasa. Namun konsekwensinya ia harus menggantinya pada hari yang lain sebanyak puasa yang ditinggalkan. Namun bagi ibu hamil dan menyusui apabila masih merasa berat untuk mengqodho’ maka ia boleh menggantinya dengan membayar fidyah.

 

2.   Musafir atau orang dalam perjalanan

Bagi orang yang sedang dalam perjalanan dan sangat memberatkan baginya untuk menjalankan puasa maka ia boleh membatalkan puasanya. Adapun syarat utamanya adalah perjalanan yang bukan untuk bermaksiat. Namun demikian ia harus menggantinya dilain hari sesuai dengan banyaknya puasa yang ia tinggalkan.

 

3.   Orang yang tidak sanggup berpuasa

Pada kriteria ini diantaranya adalah orang yang sudah tua renta sehingga fisiknya tidak memungkinkan untuk tidak berpuasa atau orang yang sakit dan secara medis tidak ada harapan untuk sembuh, maka ia boleh untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah. Dalam hal ini besaranya adalah 1 mudh atau sekitar 7 ons perharinya dan diberikan kepada fakir miskin.

 

Adapun Secara rincinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini

 

No

Orang yang boleh tidak berpuasa

Qodho

Fidyah

1

Anak Kecil

X

X

2

a.    Gila Permanen

X

X

b.    Gila temporeri

X

3

a.    Sakit yang ada harapan sembuh

X

b.    Sakit yang tidak ada harapan sembuh

X

4

Lansia (Uzur)

X

5

Orang yang berpergian (Musafir)

X

6

Orang Hamil

 

 

a.    Kawatir akan dirinya sendiri

X

b.    Kawatir akan dirinya dan bayinya

X

c.    Kawatir akan bayinya saja

7

Orang Menyusui

 

 

a.    Kawatir akan dirinya sendiri

X

b.    Kawatir akan dirinya dan bayinya

X

c.    Kawatir akan bayinya saja

8

Haidh

X

9

Nifas

X

 

 


DOA SHALAT TARAWIH DAN SHOLAT WITIR

DOA SHALAT TARAWIH

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبِالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلَى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَآلِه  وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ .بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ  وَالْحَمْدُ لِلّهِ  رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

WIRID SETELAH SHALAT WITIR

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ﴿ ٣ ﴾ سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوحِ

. أشْهَدُ أَنْ لآَ إِلَهَ إِلاَّ اللهْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ  

نَسْأَلُكَ رِضَاكَ و الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ (٣)  

اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفَوٌّ كَرِيمْ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا ﴿ ٣ ﴾ يَا كَرِيمَ

DOA SHALAT WITIR

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا، وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللَّهُ، يَا اَللَّهُ، يَا اَللَّهُ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِين. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 


Rabu, 22 Maret 2023

Satu diantara Beberapa Fadhilah Puasa

 PUASA ADALAH PERISAI BAGI SEORANG MUSLIM


Rasulullah SAW bersabda bahwa diantara Keutamaan puasa adalah sebagai perisai, yakni alat untuk melindungi diri dari serangan musuh atau apa saja yang mengancam.

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

Artinya: Puasa adalah perisai. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kenapa Puasa dikatakan sebagai perisai ?

Hal ini dikarenakan, jika seseorang berpuasa maka pasti ia akan menjanga dari berkata-kata kotor dan perberbuatan bodoh, misalnya menggosip alias ngerumpi baik secara luring ataupun daring, mengumpat karena kemacetan dijalan, atau melakukan kecurangan dalam transaksi jual beli dan tentu masih banyak contoh-contoh lainya.

Bahkan dengan kita berpuasa gejolak nafsu liar pun bisa teratasi, seperti yang Nabi saw nasihatkan kepada para pemuda yang belum mampu menikah, beliau bersabda:

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya: Siapa saja yang belum mampu menikah maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu akan menjadi perisai baginya dari kemaksiatan. (HR. Bukhari).

Puasa juga menjadi perisai di akhirat karena bisa menghalangi dari siksa api neraka. Nabi saw bersabda.

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Artinya: Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka. (HR. Ahmad).

Hadits-hadits diatas dengan jelas menjamin bahwa orang yang berpuasa akan menpunyai perisai yang bisa membentengi dirinya dari kemaksiatan dan jilatan api neraka.

 

 


Jumat, 29 April 2022

Empat Caranya Agar Kita Mampu Istiqamah Dalam Ketaatan

 

Istiqomah adalah suatu usaha untuk menjaga perbuatan baiknya, seperti ibadah, secara konsisten dan tidak berubah. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqomah adalah sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Namun makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala). Ada empat caranya agar kita mampu istiqamah dalam ketaatan dan kebenaran:

1.       Meng Up date ilmu.

Kita jangan bertahan dalam kesalahan (jumud, takhaluf). Karenanya kita harus banyak membaca, banyak mendengar, dan harus banyak tahu, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu diback-up dengan data yang akurat. Semakin tinggi ilmu, maka akan semakin mampu kita berbuat istiqamah.

2.       Membuat jaringan kebenaran (sistem).

Kita tidak bisa benar sendiri, kita membutuhkan banyak teman. Di sinilah arti penting kita bergaul dengan orang-orang yang mampu mendorong kita untuk taat asas. Sebagai contoh, kita akan sulit untuk tidak merokok bila kita berada di lingkungan para perokok. Tapi sebaliknya, kita akan berhenti merokok di lingkungan orang-orang yang tidak suka merokok.

3.       Menerapkan management resiko dalan segala tindakan

Bila kita tahu resiko dan hasil, maka kita akan mampu bertahan dalam keistiqamahan tersebut. Contoh kenapa kita mau berlapar-lapar saat Ramadhan? Karena kita tahu bahwa Allah memberi ampunan dan jaminan surga kepada orang yang shaum di bulan tersebut.

4.       Memegang dan memperjuangkan Prinsip

yaitu mampu mempertahankan prinsip atau komitmen dalam menghadapi resiko. Para sahabat sangat istiqamah dalam berjuang, walaupun sulit dan penuh bahaya, karena mereka tahu apa ujung dari cerita perjuangannya itu.

Selasa, 26 April 2022

Trik Dan Cara Jitu Menumbuhkan Kesadaran Dan Kepedulian Diri

 

Zakat secara bahasa adalah suci atau bersih, sedangkan menurut istilah  adalah mengeluarkan sejumlah harta tertentu untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Allah befirman dalam Al-Qur’an Surat At Taubah:103

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Q.S. At Taubah: 103)

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan tentang perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk mengambil zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan diri melalui zakat tersebut. Namun yang perlu kita ingat, zakat tidak hanya sebagai pembersih harta, namun zakat mampu menjadi solusi menangani permasalahan sosial seperti kemiskinan yang masih mendera bangsa ini.

Dengan demikian kita harus bisa meningkatkan rasa peduli kita, baik kepada sesama ataupun pada lingkungan. Menumbuhkan rasa saling peduli, berbagi, bergotong-royong itu tidak sulit, kita hanya harus bisa saling memberi, berbagi, menjaga, mengerti, dan saling menyayangi. Dengan demikian hal tersebut dapat menumbuhkan rasa peduli kita. Lalu bagaimana cara kita menumbuhkan kepekaan untuk saling berbagi, peduli, dan empati?

1.   Tumbuhkan sikap positif dalam diri kita. Insya Allah dengan kita selalu berbaik sangka terhadap sesama, akan mempermudah kita semakin mendekat pada rasa kasih sayang dan kepedulian. Tidak hanya itu, kita juga mampu mengurangi sifat egois, kita bisa ikut merasakan penderitaan orang lain sehingga kita bisa mengerti keadaan orang lain.

2.  Membiasakan diri kita untuk peka dan selalu ingin membantu dan mengurangi beban serta penderitaan orang lain, jika kita biasakan sifat dan prilaku ini dalam diri kita, secara tidak langsung kita membuat orang lain membuat orang lain menjadi bahagia, karena kepedulian kita padanya, sehingga timbul hubungan yang semakin harmonis.

Semakin kita dekat dan merasakan kesusahan atau penderitaan yang dialami orang lain, maka kita akan semakin mengerti dan menyadari betapa berartinya hidup kita. Mungkin kita akan merasa lebih beruntung karena tidak sampai mengalami penderitaan yang demikian.

 

Apa Maksut Dan Tujuan Allah Mewajibkan Kita Berzakat

Zakat secara bahasa adalah suci atau bersih, sedangkan menurut istilah  adalah mengeluarkan sejumlah harta tertentu untuk diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Zakat merupakan rukun islam yang ke tiga, yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. Dasar kewajiban berzakat terdapat pada Al Quran Surat Al- Baqarah:46

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

 

Artinya: Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk (Q.S. Al-Baqarah: 46)

Dalam Al-Qur’an Surat At Taubah:103

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Q.S. At Taubah: 103)

Allah mewajibkan hambanya untuk berzakat tentu ada maksut dan tujuanya, adapun maksut dan tujuanya antara lain adalah:

1.   Sebagai pembuktian keimanan kepada Allah dan pemahaman keislaman yang benar

Seorang yang mau menunaikan zakat itu membuktikan bahwa ia memiliki iman yang baik dan pemahaman Islam yang utuh.

2. Untuk menumbuhkan rasa syukur atas nikmat harta

Mensyukuri, nikmat harta yang diamanahkan kepada kita dengan menunaikan zakat, akan menambah keberkahan harta dan juga menambahkan keberkahan jiwa kita. Diantara bentuk keberkahan itu adalah  Allah akan menambah nikmatnya kepada kita.

3.   Untuk menyucikan jiwa dan menambah keberkahan harta

Zakat merupakan cara untuk membersihkan jiwa dan harta kita dan menjadi media efektif untuk membersihkan dosa-dosa dan kesalahan.

4.  Untuk menghilangkan sifat bakhil dalam jiwa

Bakhilan adalah penyakit yang serius. Ia bukan saja menghilangkan keberkahan dan menghalangi dari amal shalih, tapi juga menunjukkan lemahnya keimanan kepada Allah. Bila seseorang terselamatkan darinya dan terlindung dari sifat kikir maka dia akan sukses, sebagaimana Firman Allah

وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-Hasyr:9)

5.   Untuk memperkuat ukhuwah Islamiah

Dampak zakat yang paling dirasakan adalah Tercaianya ketersediaan kebutuhan dasar kehidupan, berupa makanan, sandang, tempat tinggal, terbayarnya hutang-hutang, membebaskan hamba sahaya. Dengan demikian ukhuwah Islamiah akan semakin kuat.

6.   Untuk menumbuhkan ekonomi syariah

Dengan zakat, roda perekonomian islam dapat kita dorong secara signifikan. Indivdu yang mampu ekonominya akan mendorong kekuatan dan kemajuan mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Disinilah makna keberkahan yang bisa kita dapat dari zakat.

HIMPUNAN DOA-DOA UTAMA

  Doa Syukur atas Nikmat Iman dan Islam اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ وَالْإِحْسَانِ Doa Syukur atas Rahm...