Kita hidup di era digital,
sebuah zaman ketika media sosial bukan lagi sekadar sarana komunikasi, tetapi
telah menjadi bagian dari gaya hidup. Dalam hitungan detik, informasi menyebar
ke berbagai penjuru dunia. Apa yang kita tulis, unggah, atau bagikan dapat
dibaca oleh ratusan bahkan ribuan orang.
Media sosial menghadirkan
banyak manfaat-mempermudah silaturahmi, memperluas wawasan, hingga menjadi
sarana dakwah dan edukasi. Namun di sisi lain, ia juga membawa tantangan besar:
hoaks yang merajalela, ujaran kebencian, ghibah digital, hingga perdebatan yang
tak berujung. Tanpa sikap bijak, media sosial dapat melalaikan, memengaruhi
pola pikir, bahkan membentuk karakter kita secara perlahan.
Karena itu, prinsip “Saring
Sebelum Sharing” menjadi kunci utama dalam bermedia sosial yang bermoral.
Berikut empat langkah penting yang dapat kita terapkan:
Pertama Tabayyun
sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi, lakukan klarifikasi.
Jangan terburu-buru menilai seseorang hanya dari potongan video, tangkapan
layar, atau judul yang provokatif. Ingat, tidak semua yang viral itu benar.
Kedua Jaga
Lisan dan Jempol, jika di dunia nyata kita diajarkan untuk menjaga lisan, maka
di dunia maya kita harus menjaga “jempol”. Satu komentar negatif dapat melukai
hati orang lain. Satu kali klik “bagikan” bisa memperluas fitnah tanpa kita
sadari. Bahkan keselamatan manusia terletak pada lisan dan ketikannya. Rasulullah bersabda:
سَلَامَةُ اْلإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
Artinya:
“Keselamatan manusia terletak dalam menjaga lisannnya.” (HR. Bukhori)
Ketiga
Pastikan Postingan kita Membawa Manfaat. Inggat! sebelum memposting sesuatu,
berhentilah sejenak dan renungkan, apakah ini bermanfaat bagi orang lain,
apakah ini mengandung nilai kebaikan, dan apakah saya siap
mempertanggungjawabkan tulisan ini dihadapan Allah.
Tidak semua hal perlu dibagikan. Tidak semua opini harus diumbar. Mari kita biasakan untuk berpikir sebelum mengetik, menyaring sebelum berbagi, dan menimbang sebelum berkomentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar